SEMINARY: THE MOVING SCHOOL

LECTIO BREVIS TAHUN AJARAN 2008/2009

 

SEMINARY : THE MOVING SCHOOL

 

PENGANTAR

Tiga tahun lagi, tepatnya pada bulan November 2011, Seminari akan berusia 100 tahun. Banyak jasa yang telah disumbangkan oleh lembaga pendidikan ini. Dalam kurun waktu itu Seminari telah meluluskan ribuan  alumni yang menyandang aneka profesi, entah sebagai uskup, pastor, tokoh awam,  maupun yang lain. Sementara itu tidak sedikit jumlah jebolan Seminari yang bisa menikmati “jasa” pendidikan Seminari, kendati mereka tidak sampai menyelesaikan pendidikan di Seminari. Para alumni umumnya merasa bangga atas pendidikan yang mereka alami di masa lalu, karena berhasil menghantar mereka menuju kesuksesan. Namun di antara alumni tersebut,  ada pula yang merasa prihatin terhadap “performance” Seminari sekarang ini, yang dipandang semakin turun mutunya. Sepertinya mereka tidak rela kalau “alma mater” mereka  semakin “redup” pamornya dan menginginkan Seminari tetap maju serta  mempertahankan mutunya.

Tentunya semua pihak punya harapan bahwa setelah berusia 1 abad, Seminari tidak semakin “redup” melainkan semakin bersinar. Usia boleh semakin tua, tetapi semangat harus tetap bernyala. Namun harapan itu akan tetap tinggal harapan tanpa adanya usaha dan kerja keras dari kita semua. Untuk itu kita tidak boleh puas diri dengan hasil yang telah dicapai selama ini. Kita perlu terus membuka mata dan menyadari aneka tantangan yang ada di depan mata kita dan mengambil langkah-langkah antisipatif untuk menanggulanginya. Intinya, Seminari tidak boleh berhenti di tempat atau hanya berputar-putar di tempat, melainkan harus bergerak maju. Dan agar bisa bergerak maju, semua pihak harus terbuka terhadap perubahan dan  bersedia melakukan langkah-langkah perubahan menuju kondisi yang lebih baik. Gerak maju tersebut diharapkan bermuara pada terbentuknya suatu sistem pendidikan yang mampu menjamin terpeliharanya mutu pendidikan ke depan.

 

PERKEMBANGAN DAN TANTANGAN PENDIDIKAN

Jaman telah berubah. Dunia pendidikan juga telah mengalami banyak perubahan dan perkembangan. Pada masa lalu, Seminari pernah menjadi lembaga pendidikan terkemuka di Magelang. Seminari memiliki keunggulan dalam pendidikan humaniora, khususnya kecakapan berbahasa, baik lisan maupun tertulis. Seminari dengan sistem asramanya, telah memiliki tradisi pendidikan yang mampu menghantar banyak orang meraih kesuksesan. Dalam kaitan ini, bisa dipahami apabila pada awal berdirinya, SMA Taruna Nusantara banyak belajar pada Seminari mengenai bagaimana mengelola sekolah dengan sistem asrama. Sekarang SMA Taruna Nusantara telah berhasil membangun sekolah dengan sistem asrama (boarding school) yang unggul, tidak hanya dalam bidang akademik tapi juga non-akademik, termasuk dalam hal  “character building”.

Kecuali  SMA Taruna Nusantara, dewasa ini telah bermunculan sekolah-sekolah unggulan yang sedang dirintis dan dikembangkan oleh Departemen Pendidikan Nasional untuk dijadikan Sekolah Berwawasan Intenasional (SBI), seperti SMA Negeri I Magelang, SMA Negeri 1 Purworejo dan SMAN 1 Yogyakarta. Telah didirikan juga sekolah-sekolah Islam unggulan, seperti SMA Insan Cendikia Serpong, SMA Dwi Warna Bogor.  Pemerintah juga telah menunjuk beberapa sekolah untuk dikembangkan menjadi Sekolah Kategori Mandiri (SKM) karena dinilai telah memenuhi  8 Standar Nasional Pendidikan (bdk. PP RI. No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional  Pendidikan). Dan mengingat sekolah dengan sistem asrama dinilai sangat efektif dan strategis untuk mendukung keberhasilan pendidikan, semakin banyak sekolah berasrama didirikan. Sekolah tersebut didirikan baik oleh Pemerintah maupun lembaga swasta. Pondok Pesantren modern banyak dikembangkan dengan dukungan dana besar dari para pengusaha maupun mantan pejabat, seperti Ponpes Modern Darussalam Gontor, Ponpes Modern Sahid Bogor, Ponpes Modern Ma’had Al Zaytun Indramayu, Ponpes Al Kaustar Al Akbar Medan, dll. Istilah “modern” sendiri memberi konotasi kemajuan.   Langkah-langkah pengembangan tersebut diambil untuk mengantisipasi era globalisasi yang penuh aroma persaingan,  dan yang tentu saja akan  merambah ke dunia pendidikan.

Proses globalisasi menghasilkan perubahan di segala bidang, baik dalam bidang ekonomi, politik, sosial, budaya, maupun pendidikan. Era globalisasi senyatanya menawarkan banyak tantangan dan peluang, juga pada bidang pendidikan. Lembaga pendidikan yang berani menghadapi tantangan dan mau mengambil peluang, akan mengalami kemajuan. Sebaliknya, lembaga pendidikan yang tidak berani menghadapi tantangan dan tidak sigap mengambil peluang,  lambat lain akan gulung tikar. Di tengah pusaran perubahan sebagai dampak globalisasi, mau tidak mau lembaga pendidikan harus menegaskan eksistensi dan orientasinya. Lembaga pendidikan juga perlu tanggap dan peka , bekal apa yang selayaknya diberikan kepada peserta didik agar mereka siap menghadapi perkembangan jaman. Dalam kaitan itu pula, lembaga pendidikan harus menegaskan tujuan pendidikannya. Sekurang kurangnya ada 4 hal yang perlu dibekalkan kepada peserta didik agar siap menyongsong era globalisasi. Pertama,  pengetahuan agar peserta didik mampu mengerti ; kedua,  keterampilan agar peserta didik mampu berbuat; ketiga,  kebijaksanaan agar peserta didik mampu menetapkan prioritas; keempat,  karakter agar peserta didik dapat bekerjasama, tekun, dihormati dan dapat dipercaya.

Di tengah pusaran globalisasi dan  pesatnya perkembangan pendidikan tersebut, lantas bagaimana hendaknya Seminari sebagai lembaga pendidikan harus memposisikan diri ? Sebagai dampak dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, kesadaran masyarakat akan pentingnya mutu pendidikan semakin bertumbuh. Banyak orang tua yang rela mengeluarkan dana cukup besar  bagi pendidikan anak-anaknya asal  lembaga pendidikan yang dimasukinya sungguh bermutu dan menjanjikan masa depan yang  cerah. Maka agar punya daya tarik dan daya pikat,  Seminari harus dibangun menjadi lembaga pendidikan yang modern, bermutu,  dan memiliki keunggulan. Tidak ada salahnya kita bermimpi. Kalau berbagai lembaga/yayasan mampu mendirikan Pondok Pesantren modern dengan sarana prasarana yang lengkap,  apakah tak mungkin Seminari Mertoyudan dibangun menjadi seperti itu? Kalau sekarang Depdiknas sedang menggalakkan rintisan Sekolah Berwawasan Internasional, tidak salahnya Seminari berorientasi ke sana.  Tidak tertutup kemungkinan , sejalan dengan era globalisasi, Seminari Mertoyudan pada saatnya nanti didatangi oleh calon-calon siswa dari luar negeri. Untuk itu para pemegang kebijakan dan kita semua perlu perlu berpikir maju dan  mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjadikan Seminari sebagai lembaga pendidikan yang modern dan unggul.

 

MENJADI  “MOVING SCHOOL”

Sebagai langkah awal untuk mewujudkan mimpi di atas, kita perlu mencermati posisi senyatanya lembaga pendidikan kita, Seminari. Menurut Hopkin (1994), ada 4 tipe sekolah/lembaga pendidikan.

  1. The stuck school : sekolah yang berhenti di tempat.
  2. The promenading school : sekolah yang berputar di tempat
  3. The wandering school : sekolah yang mengembara.
  4. The moving school : sekolah yang bergerak maju.

Seminari termasuk tipe sekolah yang mana ? Tidak mudah untuk menjawabnya. Dibutuhkan analisis yang cermat untuk menentukannya. Begitu saja memasukkan Seminari ke dalam salah satu tipe sekolah di atas kiranya juga tidak akan pas, karena kenyataannya memang tidak demikian. Kalau kita menengok sejarah, ada kalanya Seminari pada masa tertentu terkesan menjadi  sekolah yang berhenti di tempat, karena misalnya selama bertahun tahun tidak  ada perubahan atau pembangunan fisik. Ada saatnya Seminari menjadi sekolah yang berputar di tempat, karena berjalan tanpa dinamika perkembangan yang berarti, atau para pengelolanya merasa sudah “cukup puas” dengan prestasi yang telah diraih, sehingga tidak muncul  kebutuhan untuk berubah. Ada saatnya Seminari menjadi sekolah yang terkesan  mengembara; banyak muncul usulan dan  wacana perubahan tetapi sedikit yang terwujud, sedang kelompok dan individu  dalam lembaga ini berjalan sendiri-sendiri.  Ada masanya juga Seminari menjadi sekolah yang bergerak maju. Sebagai tindak lanjut dari asesmen, akhir-akhir ini Seminari menunjukkan tanda-tanda gerak maju. Hal ini nampak dalam terobosan dalam penataan kurikulum sekolah maupun asrama dan pengembangan sarana prasarana pendidikan.

Yang diharapkan tentu saja,  mulai sekarang dan ke depan Seminari diarahkan menjadi lembaga pendidikan yang terus bergerak maju. Untuk mencapai maksud tersebut,  tentu  perlu ada pembenahan dan usaha peningkatan terus menerus, sesuai dengan perkembangan jaman. Menjadikan Seminari sebagai “moving school” tidak berarti harus melakukan langkah perombakan total. Karena ciri dari “moving school” adalah adanya keseimbangan antara perubahan dan stabilitas. Sebagai lembaga pendidikan yang sudah tua, Seminari telah memiliki etos kerja dan tradisi pendidikan yang baik. Ini menjadi modal dasar yang bisa dimanfaatkan sebagai pijakan untuk melakukan gerak maju.

Ada dua ciri “moving school” yang perlu terus diupayakan di Seminari. Pertama, mengusahakan agar segala kegiatan di Seminari dilakukan atas dasar kajian yang cermat.  Terkait dengan ini,  Seminari akan memberikan dorongan sekaligus pelatihan,  baik kepada para pendidik maupun siswa untuk melakukan penelitian. Para siswa, khususnya kelas XI, akan dibekali kecakapan mengadakan penelitian;  karya tulis diusahakan disusun bertolak dari suatu penelitian. Para guru juga didorong untuk melakukan penelitian tindakan kelas, guna menemukan metode pembelajaran yang efektif dan efisien. Kedua, perlunya Seminari sebagai lembaga pendididkan yang berada dalam pusaran perubahan, mampu beradaptasi dengan lingkungan yang terus berubah. Ke depan  diharapkan Seminari mampu membangun sistem yang bisa menjamin mutu pendidikan. Dengan  adanya sistem yang mantap, Seminari akan mampu meraih hasil akhir pendidikan yang bermutu; dan  ke depan akan berjalan mantap dan tenang  meski harus menghadapi badai  tantangan dan perubahan jaman. Itulah antara lain arah yang hendak kita raih dengan mengembangkan “moving school”.

 

 APA YANG HENDAK DIUNGGULKAN ?

Pengembangan Seminari menjadi “moving school” diarahkan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Lebih spesifik lagi, untuk mengembangkan keunggulan. Pengembangkan keunggulan tersebut perlu dibangun berdasarkan “modal” atau potensi yang telah dimiliki oleh Seminari. Kalau harus menentukan pilihan, ada dua aspek yang bisa diunggulkan, yaitu keunggulan dalam bidang “character building”  dan kecakapan berbahasa, khususnya bahasa Inggris.

1.    Character Building (pendidikan watak)

Dalam pendidikan yang holistik, keunggulan dalam bidang akademik tidak menjadi ukuran satu-satunya mutu suatu sekolah atau lembaga pendidikan. Maka sekolah-sekolah yang bermutu, tidak hanya menekankan pengembangan aspek kognitif, tetapi juga mengusahakan “character building”(pendidikan watak). Jurong Junior College (Singapore) menjadi salah satu contoh sekolah yang unggul dalam “character building”. Sekolah ini berhasil mendapatkan “Outstanding Character Development Award”.

Seminari sebagai sekolah berasrama sudah sejak awal  berdirinya senantiasa mengusahakan “character building” bagi para siswanya. “Character building” sudah sejak lama menjadi bagian integral dari tradisi pendidikan di Seminari. Banyak alumni Seminari yang mengakui,  mereka bisa berhasil dalam studi lebih lanjut dan mencapai sukses dalam miniti karier karena ketika di Seminari dibekali dengan pembinaan disiplin yang kuat. Maka kalau ke depan Seminari akan menjadikan “character building” sebagai unggulan,  modal dasar atau basisnya sudah ada. Tinggal mengintensifkan apa yang sudah berjalan selama ini. Apa yang sudah berjalan selama ini lebih diformulasikan, diprogramkan dan dijalankan secara simultan, baik lewat jalur sekolah maupun asrama,  agar lebih tepat sasaran

“Character building”  atau pendidikan watak pada hakikatnya  tidak jauh berbeda dengan yang disebut pendidikan nilai, entah itu nilai kejujuran, kedisiplinan, keteguhan, kesetiaan, tanggungjawab, dll.  Pendidikan watak ini tidak hanya berhenti pada pengenalan nilai-nilai secara kognitif. Pada gilirannya pengenalan nilai-nilai secara kognitif membawa siswa ke penghayatan nilai secara afektif dan akhirnya menumbuhkan keinginan untuk mengamalkan nilai-nilai tersebut secara nyata dalam hidup sehari-hari. Pendidikan watak di Seminari diharapkan menghasilkan pribadi-pribadi yang unggul.

2.    Kecakapan berbahasa Inggris

Pada masa silam, Seminari terkenal unggul dalam bahasa Inggris. Tidak sedikit jumlah lulusan  Seminari yang “jago” berbahasa Inggris. Ada acara yang disebut “English Night” yang diisi dengan pertunjukkan drama klasik yang semuanya mempergunakan bahasa Inggris. Berbekal kecakapan bahasa Inggris yang diperoleh di Seminari, banyak jebolan Seminari yang tidak ke jalan imamat,  meniti karier sebagai wartawan atau bekerja dalam bidang penerjemahan buku-buku asing. Pertanyaan menggelitik yang perlu ditelusuri jawabannya adalah mengapa keunggulan itu semakin memudar ? Apa yang kurang pas dan perlu direformasi dalam sistem pengajaran bahasa Inggris di Seminari ?

Pada era globalisasi sudah jelas, kecakapan berbahasa Inggris menjadi tuntutan mutlak. Pertanyaannya adalah, mungkinkah keunggulan dalam bahasa Inggris itu bisa dimiliki lagi oleh Seminari ? Perlu terus menjadi pemikiran, kajian dan tantangan kita semua, khususnya guru Bahasa Inggris, untuk “mengembalikan” keunggulan tersebut. Langkah yang diambil oleh  “English Team Teaching” Seminari mulai tahun ajaran 2008/2009 semoga lambat laun mampu mendekatkan tercapainya “mimpi” yang diharapkan. Untuk itu, sarana pendukung yang telah tersedia di Seminari, baik buku-buku,  kaset, CD, VCD, maupun Laboratorium Bahasa yang telah di”upgrade”, mesti lebih diintensifkan pemakaiannya demi tercapainya keunggulan dalam bahasa Inggris tersebut.

 

MENGELOLA PERUBAHAN

Kita semua menginginkan Seminari berubah dan bergerak maju. Usaha menjadikan Seminari sebagai “moving school” untuk meraih keunggulan hanya mungkin terwujud kalau ada kesadaran, kemampuan, dan partisipasi dari kita. Untuk itu suatu menajemen perubahan diperlukan. Mengikuti model Adkar (awareness, desire, knowledge, ability, reinforcement) yang dikembangkan oleh Prosci,  ada 5 hal/fase yang perlu kita perhatikan  untuk melaksanakan perubahan:

a.       adanya kesadaran kebutuhan untuk berubah

b.      adanya keinginan  untuk berpartipasi dan mendukung perubahan

c.       adanya pengetahuan tentang bagaimana melaksanakan perubahan

d.      adanya kemampuan untuk melakukan  perubahan dari hari ke hari

e.       adanya penguatan agar perubahan tersebut tetap berlangsung.

Karena tujuan yang hendak dicapai lewat langkah perubahan di atas adalah baik, diharapkan tidak akan muncul resistensi dari pihak kita. Sebaliknya kita semua hendaknya menyediakan diri menjadi agen-agen perubahan (agent of change) menurut kedudukan, kemampuan, dan kesanggupan kita agar Seminari bisa bergerak maju ke arah yang lebih baik.

 

STRATEGI DAN PRIORITAS PENGEMBANGAN

 

Untuk menjadikan Seminari sebagai “moving school” yang memiliki keunggulan kompetitif, perlu ada strategi dan langkah-langkah pengembangan.

a.    Penataan dan pengembangan kurikulum

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang telah diberlakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional, memberi peluang pada sekolah-sekolah, termasuk Seminari, untuk menata dan mengembangkan kurikulum sesuai visi-misi, tujuan dan cirikhas Seminari sebagai lembaga pendidikan khusus. Peluang tersebut telah kita coba pergunakan. Secara khusus, mulai Tahun Ajaran 2007/2008 yang lalu, telah disusun dan diujicobakan kurikulum baru untuk KPP. Di KPP pula para guru melaksanakan pembelajaran dengan model “team teaching”. “Team teaching” pada tahun ajaran  ini  akan dikembangkan tidak hanya untuk pembelajaran IPA dan IPS, tetapi juga bahasa Inggris dan Matematika. Program kegiatan pengembangan diri dengan pilihan materi yang bersifat melengkapi dan memperkarya pembelajaran di kelas, dinilai positip dan akan diteruskan. Penataan dan pengembangan kurikulum di KPP tersebut  diharapkan mampu mengembangkan potensi akademik siswa lebih optimal dan berimbas  pada peningkatan mutu pendidikan di Seminari secara keseluruhan.

b.    Pengembangan profesionalitas tenaga pendidik

Seminari merasa diuntungkan atas kesempatan yang diberikan oleh Departemen Pendidikan Nasional kepada para guru untuk mengikuti pendidikan dan latihan dalam rangka sertifikasi. Mayoritas guru (10) telah dinyatakan lulus ujian sertifikasi, sehingga berhak untuk mendapatkan sertifikat dan tunjungan profesi sebagai pendidik profesional. Penambahan fasilitas/media pembelajaran diharapkan lebih menambah peluang bagi para guru untuk menunjukkan profesionalitasnya. Di samping itu, Seminari juga selalu memberi dukungan dan pembinaan pada para guru untuk mengembangkan profesionalitasnya. Hal ini menumbuhkan optimisme kita semua bahwa niat kita melakukan gerak maju meningkatkan mutu secara holistik, akan bisa direalisasikan.

c.     Pengembangan budaya meneliti

Menarik untuk kita contoh, program yang dilaksanakan di Jurong Junior College, Singapore. Di sana baik guru maupun siswa setiap tahun diwajibkan membuat satu penelitian dan hasilnya dipresentasikan. Hal yang menggembirakan adalah bahwa akhir-akhir ini di antara para siswa sudah muncul inisiatif untuk mengadakan penelitian, untuk mendukung tugas sidang akademi, karya tulis maupun tugas kebidelan. Hal ini akan didorong lebih jauh. Untuk itu mulai tahun ajaran ini, karya tulis kelas XI diusahakan disusun dan dikembangkan berdasarkan  suatu penelitian. Kecuali itu masing-masing guru diminta  melakukan satu penelitian (tindakan kelas) yang terkait dengan bidang studi yang diampu. 

d.    Pengembangan kecakapan mengelola  waktu (manajemen waktu)

Pengalaman selama ini menunjukkan, banyak siswa belum mampu mengelola waktu dengan baik. Akibatnya, banyak tugas tertunda atau tidak bisa diselesaikan tepat pada waktunya. Sehubungan dengan itu, ada tiga prinsip dasar menejemen waktu yang perlu diperhatikan. Pertama, waktu berjalan terus dan tidak pernah kembali, baik dimanfaatkan atau tidak. Maka waktu yang tersedia harus dimanfaatkan secara produktif dan efisien. Kedua, perlu disusun rencana penggunaan waktu. Dengan rencana yang baik, dapat dihindari adanya waktu yang kosong sehingga berlalu dan hilang tanpa arti. Ketiga, pemanfaatan waktu hendaknya diprioritaskan untuk pelaksanaan tugas pokok, baik tugas sekolah maupun asrama.

Kecuali itu, ada beberapa kiat yang perlu diperhatikan untuk menggunakan waktu secara efisien. Pertama, membiasakan diri untuk disiplin waktu  (on time). Kedua, membiasakan diri untuk mengerjakan tugas secepat mungkin, jangan menunda-nunda pekerjaan. Ketiga, membiasakan diri untuk tidak membiarkan waktu kosong tanpa kegiatan. Setiap ada waktu kosong harus diisi dengan kegiatan yang bermanfaat. Lebih jauh, guna mendukung  terbentuknya budaya studi, mulai tahun ajaran ini studi wajib/pemberian pekerjaan pada jam studi pertama, akan lebih diberdayakan. Kita semua, terutama para pamong medan, dimohon untuk “mengamankan”  terlaksananya kebijakan ini.

e.     Pengembangan  kelengkapan sarana prasarana

Setelah bertahun-tahun berada dalam statusquo, akhir-akhir  ini di Seminari ada gerak maju melengkapi sarana prasarana. Antara lain,  pembangunan gedung musik dan penambahan media pembelajaran (laptop, komputer, LCD). Mulai tahun ajaran 2008/2009 ini di semua kelas dipasang layar dan disediakan komputer untuk mendukung efisiensi dan efektivitas pembelajaran. Pengembangan sarana prasarana ini perlu ditindaklanjuti  dengan program penataan dan penambahan ruang-ruang  persekolahan agar Seminari punya wajah sekolah dan lebih punya daya tarik.

f.      Pengembangan dan pembangunan sistem

Untuk mengindari kemungkinan Seminari “berputar di tempat” ( the promenading school), dan tidak bergerak maju, perlu dibangun mekanisme kerja dan sistem yang baku. Untuk itu berbagai pedoman,  seperti pedoman penerimaan seminaris baru, pedoman penilaian, pedoman kenaikan kelas/penjurusan dan kelulusan, pedoman kepegawaian/sistem balas jasa, pedoman pembinaan siswa dll., setelah disusun, diujicoba, dan kalau perlu direvisi, selanjutnya perlu dibakukan menjadi sistem  atau pedoman kerja bersama. Kalau sudah diputuskan menjadi sistem, semua pihak yang terakait harus menyesuaikan dan mentaatinya. Pengembangan sistem dan bekerja berdasarkan sistem ini amat diperlukan agar sebagai organisasi pendidikan Seminari bisa berjalan mantap dan tenang, terhindar dari keributan karena ketidakjelasan aturan atau pun  kewenangan. Dengan telah terbangunnya sistem, gerak maju Seminari menjadi tidak tergantung pada pribadi-pribadi tertentu, melainkan karena efektifnya sistem yang ada.

 

                  PENUTUP

Peringatan 100 tahun Seminari yang akan terjadi 3 tahun lagi, bisa dijadikan momen bagi kita untuk bangkit dari “ketertiduran” dan membangun komitmen untuk bergerak maju. Maka Seminari kita upayakan sebagai “moving school”. Dalam rangka upaya agar tetap bisa eksis dan punya daya tarik (nilai jual) di era globalisasi yang sarat dengan kompetisi,  Seminari perlu memiliki keunggulan. Berbekalkan tradisi dan potensi yang kita miliki, kita akan merapatkan barisan serta memantapkan langkah untuk menjadikan “character building” dan kecakapan berbahasa Inggris sebagai unggulan Seminari.

Hendaknya kita berpikiran positip dan punya optimisme bahwa apa yang kita “mimpikan” tersebut suatu ketika akan bisa menjadi kenyataan. Tetapi pikiran positip dan optimisme itu perlu didasari oleh kemauan untuk berubah dan maju, serta dibarengi dengan kerja keras, bahu membahu,  guna  mewujudkannya. Semoga, ketika kita merayakan 100 tahun Seminari Mertoyudan pada bulan November 2011 nanti,  kita sudah dapat menyaksikan tanda-tanda kemajuan yang terukur. Terima kasih !

 

                                                          Mertoyudan, 15 Juli 2008

                                                      Direktur Seminari Mertoyudan

 

                                                          Martinus Hadisiswoyo SJ

         

Sumber Bacaan

1.    Arief Abdi & Irlan Rahadja, Redifinisi Pendidikan di Era Globalisasi. Penerapan Manajemen Strategi, TQM, dan ISO 9000 dalam Pendidikan, Bina Cendekia.

2.    Buchori, Mochtar. 2007. Character Building dan Pendidikan Kita. http://www.kompas.co.id / Kompas – Cetak/0607/26/Opini.

3.    Direktorat Pendidikan Menengah Umum, Departemen Pendidikan Nasional. 2000. Panduan Manajemen Sekolah. Jakarta : Proyek Pendidikan Menengah Umum.

4.    Jurong Junior College, Singapore. Presentasi yang disampaikan kepada para Kepala SMA Eks Karesidenan Kedu dalam kunjungan pendidikan pada tanggal 9 Juni 2008.

5.    Presiden Republik Indonesia. 2005. Peraturan Pemerintah RI No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

6.    Seminari Menengah St. Petrus Canisius Mertoyudan. 2004. Pedoman Pembinaan.

7.    Winardi, Prof. Dr.J.2004. Manajemen Perubahan (Management of Change). Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

 

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.